KIAT SUKSES MUNULIS FIKSI
Narasumber : Sudomo, S. Pt
Moderator : Dail Ma’ruf
Pembuat Resume : Suyatinah
Narasumber : Sudomo, S. Pt
Moderator : Dail Ma’ruf
Pembuat
Resume : Suyatinah
Alhamdulillah
pada pelatihan belajar menulis yang ke-11 malam ini saya dikaruniai niat dan
semangat yang besar sehingga siap menyimak ilmu yang disampaikan narasumber kita malam ini, Bapak Sudomo, S.
Pt atau yang akrab dipanggil Pak Momo. Beliau mempunyai prestasi menulis yang
sangat banyak, antara lain buku antalogi cerpen, buku antologi flash fiction,
buku antologi resume, buku saku wisata Lombok dan menjuarai berbagai lomba
seputar dunia menulis.
Pengalaman
menulis beliau dimulai tahun 2009, passion nya mulai terasah ketika bergabung
dengan komunitas fiksi. Disamping itu berbagai kelas menulis diikuti untuk
semakin mengasah kemampaunnya menulis, bahkan pernah lolos seleksi workshop
menulis cerpen Kompas. Pengalaman menulis yang terus terasah akhirnya mengantarkan beliau menjuarai beberapa lomba
menulis.
Lanjut ke materi pelatihan....
Beberapa bentuk tulisan fiksi antara lain : cerpen, novel, fiksimini,
flash fiction, pentigraf, dll, perbedaannya terletak pada jumlah
kata dan kompleksitas konflik cerita. Cerpen biasanya hanya satu konflik,
sedangkan novel konfliknya lebih rumit. Beda lagi dengan fiksimini, yaitu fiksi
singkat, hanya terdiri dari beberapa kata namun merupakan cerita utuh.
Untuk dapat membuat tulisan fiksi harus mengetahui unsur- unsur cerita fiksi yaitu : tema, premis, latar/ seting, , tokoh, alur/ plot, dan sudut pandang. Untuk bisa menjadi penulis fiksi harus mampu mengembangkan imajinasi. Makanya kita harus rajin baca tulisan fiksi agar mendapatkan pengalaman dan pemahaman terkait menulis fiksi.
1. Tema
atau ide pokok cerita.
Ø Tips
menentukan tema antara lain : dekat dengan penulis, menarik perhatian penulis,
bahan mudah diperoleh, ruang lingkup terbatas.
Ø Cara
menentukan tema antara lain : menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan
nyata, berimajinasi, membaca dan mendengarkan curahan hati.
Contoh
tema : Berkah Kejujuran, Pendidikan dan Kemiskinan, Persahabatan Tiga Pendekar,
Pengalaman Siswa Selama Belajar Daring, dll.
2. Premis
: ringkasan cerita dalam satu kalimat.
Ø Unsur-
unsur premis yaitu : karakter, tujuan tkoh, rintangan/ halangan, dan resolusi.
Ø Cara
membuat premis yaitu tulis masing- masing unsur pembentuknya, kemudian rangkai
menjadi satu kalimat utuh.
Contoh
premis : seorang anak SMP mengajak temannya berkunjung ke guru mata pelajaran
IPA untuk mendapatkan materi tambahan.
3. Alur/
Plot : struktur rangkaian kejadian dalam cerita.
Ø Macam-
macam alur, yaitu : alur maju, alur mundur, alur campuran, alur flashback, dan
alur kronologis.
Ø Unsur-
unsur Alur/ Plot : Pengenalan cerita, Awal konflik, Menuju konflik, Konflik
memuncak/ klimaks, Penyelesaian/ ending.
Ø Unsur-
unsur alur tersebut bisa diubah urutannya tergantung jenis alur yang dipilih.
4. Penokohan
: penjelasan detail karakter dalam cerita.
Ø Macam-
macam penokohan : antagonis, protagonis, tritagonis.
Ø Tehnik
penggambaran tokoh : analitik, fisik, dan perilaku tokoh, lingkungan tokoh,
tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.
5. Latar/ Setting : penggambaran waktu,
tempat, dan suasana terjadinya peristiwa- peristiwa dalam cerita.
Ø Jenis-
jenis latar: latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar
material, dan latar integral.
6. Sudut Pandang:
cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang
diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita. Macam-macam sudut pandang: Orang Pertama Tunggal, Orang Pertama Jamak, Orang Kedua, Orang Ketiga Tunggal, Orang Ketiga Jamak, dan Campuran.
Bagaimana
selanjutnya proses kreatif menulis cerita fiksi?
Ø * Tumbuhkan Niat: Motivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan
* Banyak membaca Fiksi orang lain untuk menemukan bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan.
*Segera catat saat menemukan ide dan genre.
*Kembangkan imajinasi untuk mendapatkan ide
*Pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai
*Membuat Outline, dengan panduan sebagai berikut : kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi, menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita, membuat premis sesuai tema, menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya, menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik, menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail, memilih sudut pandang penceritaan yang unik
*Menulis, dengan memperhatikan beberapa hal berikut : membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik), melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik dengan cara memaparkan secara jelas kepada pembaca, menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh, menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi, memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas, memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi), membuat ending yang baik.
*Swasunting yang dilakukan setelah selesai menulis; jangan menulis sambil mengedit; memfokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan; pemakaian kata baku dan istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita. Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri; jangan lupa menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Tips
lain berdasarkan pertanyaan peserta pelatihan :
v * Salah
satu trik agar cerita kita enak dibaca dan seru adalah melibatkan pembaca dalam
tulisan kita. Teknik ini bisa menggunakan pakai show don't tell.
v * Passion
terhadap jenis tulisan akan kita temukan seiring waktu. Memang tidak serta
merta, tetapi butuh proses. Yang bisa mengetahuinya ya saat kita bisa
menyadarinya kita lebih suka pada jenis tulisan yang mana. Terkait tema yang dekat
dengan penulis, kita ambil contoh seorang guru, tentu akan lebih mudah
menuliskannya jika kita membuat cerita fiksi tentang guru dan murid.
v *Semua
tulisan fiksi harus memenuhi unsur- unsur yang ditentukan, fiksimini sekalipun.
v *Jika
yang ditulis merupakan kisah pribadi penulis, agar 'sembunyi' lebih aman, kita
bisa mengganti tokoh, latar atau sudut pandang. Kita pakai temanya saja
kemudian tambahkan bumbu-bumbu penyedap biar lebih dramatis dan enak dibaca.
v *Terkait
dengan teknik show don't tell. Jadi kalau misalnya kita menggambarkan tokoh
sedang sedih, kita bisa menuliskan sedihnya seperti apa tanpa harus menuliskan
langsung bahwa tokoh sedang sedih. Namun, dari tulisan kita, pembaca tahu bahwa
tokoh kita sedang sedih. Ini memang tidak mudah. Membutuhkan kebiasaan terus
mengasahnya dengan cara terus belajar menulis.
v 8Penjelasan
lengkap tentang premis. Premis secara sederhana adalah ringkasan cerita utuh
dalam satu kalimat. Artinya hanya dengan membaca premis, kita bisa mengetahui
cerita secara keseluruhan. Misalnya novel Harry Potter. Premisnya adalah
seorang anak yang pandai sihir harus berjuang melawan penyihir jahat demi
kedamaian dunia. Kedekatan premis dengan tema, premis adalah pengembangan tema.
Alur tambahan bebas ditambahkan asal sesuai dengan outline atau kerangka
karangan yang sudah kita susun. Setiap masalah tokoh harus selesai. Hal ini
karena ini merupakan syarat sebuah cerita.
v 8Tulisan
fiksi Korea banyak digemari, karena tema drama Korea sangat dekat dengan
kehidupan anak dan remaja masa kini. Upaya kita ya berusaha menghasilkan cerita
fiksi yang lebih menarik bagi anak dan remaja. Dengan pendekatan pada hal-hal
keseharian dan konflik-konflik yang seru akan membuat mereka suka pada cerita
karya anak bangsa.
v *Referensi
karya fiksi www.eigendomo.com,
v *Inpirasi
: Harry Potter sangat laris karena teknik penulisan yang menarik memang temanya
pas dan cocok dibaca oleh semua umur.
v *Agar
dapat membuat cerpen yang runtut sebaiknya membuat outline atau kerangka karangan.
Hal ini akan memudahkan kita dalam mengembangkan alur dalam cerpen.
Beberapa
alasan mengapa kita harus menulis fiksi
ü *Memudahkan
seorang guru (bagi yang berprofesi guru) membuat soal AKM untuk muridnya,
karena salah satu komponen dalam AKM atau ANBK adalah literasi, yaitu literasi
fiksi.
ü *Manfaat
yang saya rasakan selain 'koin' juga 'poin'. Manfaat 'koin' adanya royalti
penerbitan buku fiksi. Sedangkan 'poin' adalah bisa berbagi dan belajar menulis
fiksi dari teman-teman lainnya.
Demikian resume dari
narasumber kita Bapak Momo. Motivasi beliau : Belajar terus, seterusnya pembelajar. Semoga ilmu yang sangat
bermanfaat yang ditularkan Pak Momo tidak sekedar tersimpan sebagai tulisan,
namun kita bisa mewujudkan dengan karya nyata, tulisan fiksi. Semoga...
Komentar
Posting Komentar