MENCOBA MENGEMBANGKAN PASSION BARU SEBAGAI PENULIS

Saya seorang guru yang sudah hampir pensiun, tepatnya tiga tahun lagi pensiun, namun begitu saya ketemu dengan komunitas penulis yang hebat, keinginan menjadi penulis yang terpendam lama akhirnya muncul kembali. Saya mendapatkan info pelatihan ini dari sesama rekan pengajar di SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, DIY. Untuk mewujudkan  keinginan yang lama terpendam, saya segera daftar. Pelatihan perdana pada hari Senin, tanggal 4 Oktober 2021, pukul 19.00 s.d 21.30. Pelatihan Penulisan yang bertema “Writing is My Passion” dengan nara sumber Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M. Pd / Ibu Kanjeng sangat membimbing kami sebagai calon penulis.

            Sebelum mengikuti pelatihan ini, sebetulnya saya pernah mengikuti workshop penulisan Karya Tulis Ilmiah, naskah/ artikel  yang diterbitkan di media massa, namun saya tidak mendapatkan teori menulis seperti saat ini. Pada workshop yang saya ikuti dulu, langsung diminta buat artikel, kemudian diedit oleh mentor, mentor yang ngirim ke koran online. Sudah beberapa artikel/ opini yang saya tulis, publish di koran online. Ketika tulisan saya publish untuk yang pertama kali, betapa gembiranya hati saya. Ternyata hambatan- hambatan yang selama ini membelenggu keinginan saya untuk menulis, seperti merasa tidak punya bakat, tidak memiliki ide, tidak bisa menulis, dll ternyata terpatahkan. Bayangan dan angan- angan kita seperti itu yang mungkin menghambat kemampuan seseorang untuk menjadi penulis, seperti juga yang saya rasakan.

            Ketika artikel perdana saya publish dan saya share ke grup whashap teman kerja, teman kuliah dulu, teman PKK di kampung, apresiasi yang sangat baik diberikan kepada saya. Hal ini mungkin terkait dengan maindset banyak orang bahwa kemampuan menulis dipandang sebagai indikator  intelektual dan kematangan berpikir, sehingga ketika seseorang bisa menulis,  dianggap mempunyai kemapuan diatas rata- rata.

Motivasi yang diberikan Ibu Kanjeng kepada peserta pelatihan penulisan ini merujuk pada Hadis Nabi yang mengatakan  “khoirunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat  untuk manusia lain). Selain itu, ada nasehat bijak dari leluhur kita “ Urip iku kudu urup ” , yang artinya orang hidup itu harus bisa memberikan manfaat bagi sesama. Saya ingin sekali bisa menulis, dengan harapan ide/ gagasan yang saya tulis akan bermanfaat bagi orang lain.

            Langkah- langkah yang harus dipersiapkan untuk menulis menurut Ibu kanjeng antara lain : menggali/ menemukan gagasan/ ide, menentukan sasaran pembaca yang kita tuju, menentukan tema tulisan, membuat outline/ kerangka tulisan, mengumpulkan bahan/ materi tulisan. Ide tulisan bisa dari kejadian faktual, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk memudahkan kita mendapatkan ide sebaiknya kita harus banyak membaca baik bacaan yang umum maupun bacaan khusus, misalnya sesuai dengan latar belakang keilmuan yang selama ini kita pelajari, berdiskusi dengan orang lain, melihat banyak kejadian disekitar kita dan menyimak pengalaman orang lain. Setelah mendapatkan ide, beranikan untuk menulis, tepis semua keraguan yang selama ini berkecamuk. Tulis semampu kita, tidak harus sempurna. Jika kita mengikuti pelatihan penulisan, kita minta bimbingan dari para mentor. Menulis adalah suatu ketrampilan, sehingga semakin sering menulis akan semakin trampil, semakin baik, dan semakin marketabel, tidak mustahil suatu saat nanti kita bisa menjadi penulis yang hebat.   Aamiin


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBONGKAR RAHASIA MENULIS HINGGA MENERBITKAN BUKU

TEHNIK PROMOSI BUKU

POIN BUKU PADA KENAIKAN PANGKAT