MENGENAL PENERBIT INDIE
Pelatihan Belajar Menulis PGRI
Pertemuan ke-17, Rabu, 10 November 2021
Narasumber : Mukminin, S. Pd. M. Pd
Moderator : Aam Nurhasanah
Penulis : Suyatinah
Hujan lebat di Yogyakarta gak menyusutkan semangatku mengikuti pelatihan belajar menulis PGRI yang malam ini memasuki pertemuan ke- 17. Narasumber kita malam ini Bapak Mukminin, S. Pd, M. Pd yang berprofesi sebagai pengajar di SMP N Kedungpring Lamongan, merupakan alumni gelombang 8. Beliau owner Kamila Press. Karyanya sudah sangat banyak, baik buku solo, duet, maupun buku antologi. Buku solo yang laris manis adalah Jurus Jitu Menjadi Penulis Handal Bersama Pakar.
Pada saat ini terbuka kesempatan lebar bagi siapa saja untuk menulis. Untuk bisa terlatih menulis memang butuh ketekunan dan perjuangan. Kita harus belajar menulis setiap hari agar kemampuan kita semakin terasah. Konsisten dalam menulis itu yang harus memiliki tekad dan motivasi tinggi . Kadang perlu suntikan kata- kata mutiara sebagai pembakar semangat dalam menulis, misalnya Man Jada Wa Jada, siapa yang bersungguh- sungguh pasti bisa.
Sebagai anggota PGRI, sebetulnya seorang guru sudah biasa menulis karena sejak dari kuliah sudah harus membuat karya tulis ilmiah seperti skripsi, tesis. Apalagi saat ini menjadi guru dituntut untuk bisa menghasilkan karya tulis sebagai syarat kenaikan pangkat, bagi guru PNS. Jika mau naik pangkat ke III d harus ada nilai dari Penelitian Ilmiah/ Karya Ilmiah, seperti PTK/ Penelitian Tindakan Kelas, Modul/ Diktat Pembelajaran, Buku Pedomen Guru, Best Praktis, Makalah, dll. Ada juga yang membuat Kumpulan Puisi, Kumpulan Cerpen. Hal ini merupakan awal untuk menerbitkan buku. Dengan menerbitkan menjadi buku maka nilai keterbacaannya dari karya kita akan menjadi lebih besar, berarti semakin besar pula manfaat tulisan kita bagi orang lain.
Nah,
untuk bisa merealisasikan dalam bentuk buku perlu memahami tahapan menerbitkan
buku. Ada 5 tahapan yg harus dilalui:
1. Prawriting
a. Mencari ide merupakan tahap awal dari prawriting.
Ide dapat dimunculkan dari apa- apa yang ada disekitar kita ( Pay attention),
oleh karena itu kita harus peka dengan kondisi lingkungan kita.
b.
Kreatif. Agar tidak kehabisan ide dalam
menulis, maka kita harus kreatif menangkap fenomena yg terjadi di sekitar untuk
menjadi tulisan.
c. Penulis banyak membaca buku. Ide
kadang muncul dari isi buku yang kita baca.
2. Drafting
Tahap
ini merupakan proses menulis naskah buku. Tulislah sesuai
yang dengan apa yang disukai ( pasion). Boleh menulis artikel, cerpen,
puisi, novel dan sebagainya. Usahakan kreatif
dalam merangkai kata, menggunakan majas, dan berekpresi agar menarik pembaca.
3. Revisi
Setelah
selesai menulis naskah, maka selanjutnya kita melakukan revisi naskah. Merevisi
tulisan mana yang baik dicantumkan, naskah mana yang perlu dibuang, naskah mana yang perlu ditambahkan.
4. Editting/ Swasunting
Setelah
naskah kita revisi maka masuk tahapan editting. Penulis melakukan pengeditan.
Hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada kalimat. Tahap
ini boleh dikatakan sebagai "Swasunting" yaitu menyunting tulisan
sendiri sebelum masuk penerbit, agar tidak ada kesalahan. Maka penulis dituntut
untuk memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EBBI.
5. Publikasi
Jika tulisan yang berupa naskah buku sudah yakin maka Anda memasuki tahap publikasi atau penerbitan buku.
Untuk
langkah menerbitkan buku, kita perlu mengenal penerbit. Ada 2 jenis penerbit,
yaitu :
penerbit
Mayor dan penerbit Indie. Perbedaannya
antara lain :
1.
Jumlah Cetakan : pada penerbit mayor mencetak
bukunya secara massal. Biasanya cetakan pertama minimal 1000 eksemplar, sedangkan
penerbit indie mencetak sesuai dengan pesanan atau cetak berkala yang dikenal
dengan POD ( Print on Demand).
2.
Penjualan dan distribusi : pada penerbit mayor , buku dijual dan di
distribusikan oleh penerbit ke toko- toko buku, sedangkan pada penerbit indie pemasaran
dan distribusi menjadi tanggung jawab pribadi, misalnya melalui media online
Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.
3.
Pemilihan naskah yang diterbitkan : pada penerbit mayor, naskah yang akan
diterbitkan melalui beberapa tahap prosedur yang ketat sebelum menerbitkan
sebuah naskah. Hanya naskah yang berkualitas yang dipilih karena harus
mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan, pertimbangannya adalah
untung dan rugi. Sedangkan pada penerbit indie tidak menolak naskah selama naskah tersebut sebuah karya yang
layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak
plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi. Sehingga penerbit indie menjadi alternatif
baru bagi para penulis untuk membukukan tulisannya.
4.
Profesionalitas : penerbit mayor profesional dengan banyaknya dukungan SDM di
perusahaan besar mereka, sedangkan penerbit indie tetap profesional juga karena
mutu dan manajemen pemasaran buku tetap menjadi ukuran penilaian awal sebuah
penerbitan
5.
Waktu Penerbitan : pada penerbit mayor sebuah naskah diterima atau tidaknya
akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau
waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena
penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang
harus mereka lalui. Penulis akan beruntung jika buku cepat didistribusikan di semua toko buku.
Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target,
maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.
Sedangkan pada penerbit indie naskah yang masuk akan segera diproses dengan
cepat. Dalam hitungan minggu buku sudah bisa terbit, karena fokus penerbitan bukan pada selera
pasar, namun tujuannya menerbitkan karya
yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak
diterbitkan.
6.
Royalti :pada penerbit mayor mematok
royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan yang dikirim kepada penulis setelah mencapai angka
tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku, sedangkan pada penerbit
indie besaran royalti umumnya 15-20% dari harga buku.
7.
Biaya penerbitan : pada penerbit mayor, biaya
penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku
begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang
sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang
banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku
terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit. Sedangkan pada penerbit indie Berbayar sesuai
dg aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yg
diterbitkan tidak sama.
8.
Contoh penerbit mayor antar lain : Penerbit Andi, Alfabeta, Erlangga, dll.
Contoh penerbit indie antara lain : Oase, YPTD, Kamila Press, dll.
Lengkap
sudah penjelasan narasumber kita malam ini. Semoga apa yang disampaikan Cak
Inin segera membangkitkan semangat kita untuk menulis buku, melalui penerbit
indie kita meniti menuju penerbit mayor. Aamiin
Terima kasih sudah mengerjakan tugasnya dengan baik
BalasHapusJEMPOL👍🏾
BalasHapus