MENGUAK DAPUR PENERBIT MAYOR

Pelatihan BM PGRI

Ke- 22

Narasumber    : Edi S Mulyanta

Moderator         : Helwiyah

Penulis              : Suyatinah


Alhamdulillah malam ini masih bisa mengikuti pelatihan belajar menulis PGRI  pertemuan ke- 22. Ibu Helwiyah selaku  moderator membuka acara dengan bacaan berdoa. Selanjutnya memperkenalkan narasumber kita malam ini yaitu Bapak Edi S Mulyana, seorang Publishing Cunsultant  di Penerbit Andy, dengan pengalaman 20 tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengantongi pengalaman hebat. Materi yang akan disampaikan beliau adalah : MENGUAK DAPUR PENERBIT MAYOR.

Mari simak  materinya agar kita bisa mengetahui rahasia dapur penerbit mayor dan  tulisan kita segera menembus penerbit mayor...

Beberapa point yang disampaikan Bapak Edi S Mulyana, nasumber kita malam ini antara lain :

1. Tugas dari penerbit adalah memberikan layanan industri, dalam menerbitkan atau mempublikasikan hasil karya tulis dari penulis, baik karya tulis bersifat informasi, inovasi, adaptasi, solusi, idealisme,  dapat dikirimkan ke penerbit. Penerbit hanyalan Intermediary atau perantara dalam proses publikasi sebuah tulisan. Jadi  Tugas penerbit, dari produksi, publikasi, distribusi, dokumentasi, industri.

2. Keuntungan merupakan tujuan penerbit, sedangkan bagi penulis, selain keinginan memperoleh royalty, ada juga yang bertujuan untuk mendapatkan kredit point untuk kenaikan pangkat, misalnya tulisan ilmiah seperti buku ajar, buku referensi, publikasi ilmiah, dll. 

3. Perbedaan penerbit mayor dan minor antara lain : jumlah atau skala produksi setiap penerbit yang tergabung dalam anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tersebut. Skala produksi ini tercermin dalam ISBN setiap buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut. Melalui ISBN ini dapat diketahui penggolongan skala produksi buku yang dihasilkan setiap tahunnya. ISBN (International Standard Book Number)  dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional, yang diberikan hak oleh negara untuk memberikan nomor-nomor yang dikuasainya tersebut untuk dibagikan kepada penerbit di Indonesia. Penerbit minor biasanya memproduksi buku skala kecil, sedangkan penerbit mayor memproduksi buku skala besar (ribuan). Struktur penomoran ISBN : angka di publication element tersebut adalah jumlah produksi buku yang dapat dilakukan oleh penerbit tersebut. Melalui angka ini terlihat berapa kekuatan produksi buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit.


4. Karena jumlah produksi cukup besar, akhirnya penerbit mayor mempunyai saluran pemasaran yang cukup beragam yang sering disebut Omni channel Marketing selain tentunya outlet di Toko Buku. Media-media promosi baru seperti channel Webinar, Podcast, IG Live, WA Group, mejadi media promosi yang luar biasa berkembang.

5. Upaya penerbit dalam mengatasi  penurunan omset penjualan akibat terdampak pandemi covid- 19 antara lain : a). penyesuaian outlet toko buku berpindah pemasaran ke sistem online, maupun digitalisasi materi dalam bentuk media lain selain tulisan, b). mencetak buku secara elektronik, E-book akan tetap menarik karena konsep praktis, ramah lingkungan, c). pengereman produksi, dengan menyimpan tenaga, energi penulis yang tidak lekang oleh pandemi, dengan tetap melakukan seleksi-seleksi materi buku yang menarik. Menabung naskah, adalah strategi dalam menghadapi pandemi.

6. Google dengan sigap juga telah mencoba peruntungannya di era digital ini, yaitu dengan Google Books nya, digitalisasi e-book sudah mencapai ke industrialisasi digital masa depan.Tantangan penerbit baik mayor maupun minor, adalah kecepatan dalam menguasai teknologi ini ke depan. Dengan konsep multimedia, penggabungan antara media-media baru, menjadikan buku akan semakin mengecil secara fisik. Apalagi ada konsep baru dalam dunia digital yaitu konsep Metaverse yang diusung Face Book, dunia digital akan semakin kaya. Penguasaan tekonologi harus cepat dikuasai, sehingga media buku di Indonesia akan semakin maju dalam mengikuti perkembangan jaman. Buku akan diperkaya dengan media-media lain, yang akan saling mengisi kelemahan secara alamiah media-media tradisional tersebut.

7. Penulis harus memberikan pengayaan-pengayaan tidak hanya kemampuan tulis belaka, tapi juga pengembangan di sisi penulis harus diberdayakan seperti penulis mempunyai Blog, Channel Youtube, Twitter, Podcast, bahkan Tiktok yang dapat dijadikan sarana promosi tulisan bukunya. Hal ini akan memberikan rangsangan penerbit untuk tidak mampu menolak tulisan penulis karena followernya banyak, menjadi selebriti di Youtube, atau Selebriti Tiktok. Ke depan materi tulisan tidak akan melulu dijadikan alasan penerbit dalam menerbitkan buku, akan tetapi kemampuan penulis dalam membantu mempromosikan tulisan lah yang menjadi primadona penulis-penulis baru.

8. Persaingan penerbit akan semakin keras, tidak memandang penerbit mayor maupun minor. Hal ini karena ke depan proses penerbitan bisa dilakukan sendiri oleh penulis. Lihat saja bang Tere Liye yang dapat memproduksi sendiri tulisannya melalui Google Books. Memang Genre tertentu penulis dapat bermain sendiri memproduksi bukunya. Pintar-pintar penulis dalam mengelola tulisannya. Ada yang dapat dikerjakan sendiri, ada dapat berkolaborasi penerbit baik minor maupun mayor. Semua akan jalan di jalannya masing-masing dan tidak akan saling berebut akan tetapi tetap menghasilkan keuntungan. Akhirnya, semua unsur Dunia penerbitan akan menjadi lebih berwarna dan saling menguntungkan dari penulis, penerbit, hingga pembaca buku dengan terbentuknya dunia digital yang cukup menjanjikan ke depannya.

Contoh karya Tere Liye di Google Books


9. Penulis jangan segan-segan menawarkan tulisannya ke berbagai skala penerbit, karena saat ini konten adalah raja-nya, sehingga penerbit memerlukan kesegaran konten yang dapat dikembangkan menjadi komoditas yang menguntungkan. Pelajari karakteristik penerbitnya, dengan melihat hasil-hasil terbitannya, setiap penerbit mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Penulis adalah makhluk bebas, yang dapat menawarkan ke semua penerbit. Kepiawaian dalam mengatur strategi, kemampuan, dan memilah serta memilih penerbit. Coba menulis di aplikasi Wattpad, follower pembaca biasanya dipantau oleh penerbit-penerbit mayor. Penerbit minor, juga tidak kalah kreatifnya dalam menjaring penulis. Dengan banyaknya syarat-syarat kenaikan pangkat guru, dosen, hingga guru besar, menjadikan penerbit-penerbit saling bersaing mengisi peluang tersebut.

10. Hal yang penting sebagai penulis adalah, jaga kejujuran, jaga idealisme, dan selalu belajar dari berbagai genre tulisan orang lain. Ke depan persaingan penerbit tidak hanya antar penerbit akan tetapi dengan digitalisasi yang menjadikan persamaan derajat antara penulis, penerbit, penyalur, dan pembaca buku. Penerbit mayor saat ini tidak kekurangan naskah untuk diterbitkan, hanya kekurangan likuidasi dalam memproses naskahnya menjadi sebuah tulisan atau media lain ke pembaca. Sehingga saat ini yang menjadi masalah adalah media apa yang sesuai dalam mendukung sebuah terbitan buku. 

Penjelasan tambahan dari narasumber dari pertanyaan peserta pelatihan :

1. Pertanyaan 1 dari Ibu Umi Agus Farida dari Marabahan Kalsel : trik dan kiat- kiat apa saja untuk memudahkan agar tulisan kita bisa diterbitkan di penetbit mayor pak?

Jawaban narasumber : penulis harus peka dengan isue-isue baru, sehingga tidak tertinggal dalam menyajikan penawaran tulisannya kepada penerbit. Misalnya  : Saat ini ada perubahan kurikulum pendidikan, nah semua penerbit berlomba untuk mengisinya. Kurikulum MBKM (merdeka belajar kampus merdeka) adalah magnet yang luar biasa. Kurikulum diserahkan ke masing-masing daerah dengan panduan utama dari pemerintah. Nah ini peluang yang luar biasa menarik sekali, segera pelajari hal tersebut dan jangan lupa tawarkan proposal tulisan bapak ibu ke penerbit; adanya mata pelajaran-mata pelajaran baru, seperti penguatan Pancasila, Attitude Pelajar, Softskill dan lain-lain, tema-tema tersebut sangat dicari saat ini, sehingga menjadi peluang apabila mengangkat tema itu akan sangat diminati penerbit. Selain itu pengalaman Guru yang bisa mengajar di depan kelas, dan menuliskannya dalam bentuk buku, untuk memberikan isnpirasi ke Guru yang lain merupakan tema sedang dicari, hanya kami sebagai penerbit kesulitan mendapatkan tulisan tersebut.

 

2. Pertanyaan 2 dari Ibu Elis, Bandung : bagaimana cara memulai menulis, agar dapat menghasilkan karya tulis yang diterima penerbit mayor ?

Jawaban : Contoh- contoh  materi atau bahan-bahan yang bisa bapak ibu jadikan inspirasi tulisan dijelaskan pada bagan dibawah ini : 


3. Pertanyaan ke 3 dari Ibu Widya Malang : Apakah ada kemungkinan suatu saat nanti buku fisik akan tergantikan dengan buku E-book.

Sekarang saja perkembangan aplikasi wattpad begitu melaju dengan pesat.

Apakah hal ini sudah di prediksi sebelumnya oleh penerbit. Dan apa trik untuk selanjutnya.

Jawaban : E-Book saat ini sudah terlihat mulai menjadi embrio yang matang untuk melahirkan peradaban baru dalam literasi baca tulis. Hanya saja ekosistem industrinya belum matang, sehingga masih terlihat wait and see aturan atau kebijakan masing-masing negara dalam menyambut media digital ini. E-book saat ini baru mencapai pertumbuhan 4% saja, sehingga belum dapat dijadikan sumber utama bagi penerbit-penerbit buku. Saat ini proses pemasaran saja yang bergeser shifting ke digital seperti jualan di market place buka lapak, Shopee, Blibli, dll dalam mempromosikan buku fisik. Ke depan peluang digitalisasi buku ini memang semakin terlihat, apalagi dikawinkan dengan berbagai macam media yang lain. Bapak ibu bisa membaca sampel-sampel buku berikut, untuk memberikan gambaran perkembangan e-book.

https://www.pbuandi.com/?view=flipcard ini hanya katalog e-book siapa tahu dapat memberikan gambaran ke depan bagaimana e-boook dipasarkan.

 

 4. Pertanyaan ke 4 dari Ibu Elis Bandung : Saya guru, kejadian-kejadian di sekitar pendidikan rasanya biasa saja sementara orang yg bukan berasal dari pendidikan menganggap banyak hal yg bisa dituliskan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Pertanyaan saya, bagaimana penerbit menilik sebuah tulisan akan laku di pasaran?

Jawaban : Penerbit mempunya Research and Development, yang tugasnya adalah mengamati kebijakan, mengamati buku pesaing, mengamati trend, dan memberikan kesimpulan-kesimpulan. Nah kesimpulan ini akan ditangkan oleh Pengembang Produk (Product Development) untuk berburu naskah. Dari berbagai data-data pemasaran, akan dapat diberikan kesimpulan perkiraan trend ke depan, sehingga arah pencarian naskah lebih bagus dan pasti. Hal ini hanya perkiraan saja, karena karakter buku yang laku di pasar memang banyak sekali variabel yang mempengaruhinya. Bagian pemasaran nanti akan merancang, kira-kira media apa yang dapat mendukung pemasaran bukunya, channel apa yang cocok, dan sesuai dengan target pembaca bukunya. Dari kolaborasi tersebut diharapkan penulis juga dapat membantu dalam mensosialisasikan bukunya.

 

5. Pertanyaan ke 5 dari Ibu Suyatinah Yogya : Di sekolah saya kebetulan belum mengembangkan e- library, namun ada rencana segera mengadakan mengingat perkembangan dunia digital yang semakin menuntut perubahan pelayanan perpustakaan sekolah.

Pertanyaan saya : apakah kalau membeli e- book di penerbit andi sudah sekalian aplikasinya?

Jawaban : Banyak sekali konsumen yang masih menganggap bahwa bisnis e-book spt bisnis jualan buku fisik, sehingga dapat dibeli filenya. Konsep ini sebenarnya salah kaprah, karena bisnis e-book harus disiapkan dahulu ekosisstemnya, sehingga dapat terjadi transaksi yang menguntungkan berbagai pihak. Dari pengalaman kami, konsep Google Books adalah konsep yang transparan dan kuat ekosistemnya. Menjawab pertanyaan ibu Suyatinah, kami sedang mengembangkan juga e-library walaupun masih tahap embrio, mengingat pemerintah menggencarkan e-library. Ada unsur yang sangat penting dalam e-book, yaitu materi digital dari penulis yang harus kami distribusikan ke pembaca dan sekalilagi harus memberikan manfaat ke berbagai unsur ekosistem penerbitan. Konsep e-library masih belum begitu matang sehingga beberapa penulis masih belum mau untuk memasukkan naskahnya di sini karena belum menguntungkan dalam pembagian hasilnya. Nah ini ke depan sedang kami pelajari supaya sumber tulisan tidak akan kering dalam ekosistem e-library tersebut. Kami ada produk aplikasi e-library, dan sudah ada koleksi buku di dalamnya. Akan tetapi aplikasi ini belum sempurna, sedang kita perbaiki alur proses di dalamnya. Ke depan semoga bisa menghasilkan aplikasi e-library yang memuaskan semua unsur ekosistem penerbitan dalam meningkatan literasi baca dan tulis di negara Kita...

 

Closing statement dari narasumber kita malam ini : silakan mengirimkan naskah ke semua penerbit, untuk berlatih baik dalam manajemen tulisan dan manajemen hati. Jika belum bisa lolos terbit, ulangi dan berlatih dengan mencoba gaya tulis yang bapak ibu senangi.. insyaallah jalan itu pasti akan datang. Selamat berproses dan menikmati proses ini sampai tulisan bapak terbit dan dinikmati oleh pembaca buku bapak ibu..

 

Sebelum menutup dengan salam, moderator kita, Ibu Helwiyah memberikan pesan yang mendalam : " Jangan pernah berhenti untuk mencoba dengan sesuatu yang  berawal baik......lakukan hingga menghasilkan sesuatu.."

 

Terimakasih Pak Edi atas semua ilmunya, terimakasih juga bu Helwy, semoga para peserta pelatihan malam ini bisa segera merangkai tulisan dan menjadi sebuah buku, yang in sya Allah terbit di Penerbit Andi. Aamiin

 



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBONGKAR RAHASIA MENULIS HINGGA MENERBITKAN BUKU

TEHNIK PROMOSI BUKU

POIN BUKU PADA KENAIKAN PANGKAT